ANALISA UJIAN NASIONAL 2011

Analisa mendalam terhadap UN 2011  dilakukan untuk melihat kompetensi siswa terhadap masing-masing mata pelajaran yang diujikan. Tahun ini, matematika menjadi mata pelajaran tersulit, disusul Bahasa Indonesia, kemudian Bahasa Inggris.

Sebanyak 2.391 siswa atau 51,44 persen dinyatakan tidak lulus matematika. Sementara 1.780 siswa atau 38,43 persen tidak lulus Bahasa Indonesia. Dan sebanyak 152 siswa atau 3,27 persen tak lulus Bahasa Inggris.

 

Menteri Pendidikan Mohammad Nuh mengatakan, ini kali keduanya, Bahasa Indonesia menjadi pelajaran tersulit. Hasil ini harus ditelusuri penyebabnya. “Sebab bila pada matematika banyak yang tidak lulus, itu mungkin bisa dimaklumi. Tapi kalau Bahasa Indonesia ini harus dicari tahu. Kenapa lebih banyak yang lulus di Bahasa Inggris,” katanya kepada dalam konferensi pers analisis hasil UNI, pada 20 Mei lalu di Kemdiknas.

 

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kemdiknas, Mansyur Ramly mengatakan, faktor penyebab ketidaklulusan siswa untuk Bahasa Indonesia disebabkan minimnya kemampuan siswa untuk memahami bacaan. “Kebiasaan siswa untuk membaca artikel panjang kemudian mendapatkan maknanya masih kurang. Soal Bahasa Indonesia banyak diawali bacaan sehingga pertanyaan yang muncul terkait bacaan,” jelasnya. Mansyur berharap, para guru Bahasa Indonesia dapat melatih siswa untuk belajar membaca cepat, dan memahami makna dari bacaan.

 

Hasil tahun ini juga menunjukkan, Papua menjadi propinsi dengan kelulusan UN terendah di mata pelajaran matematika. Secara keseluruhan, nilai sekolah peserta didik di propinsi Papua sudah berada di bawah 5,5. Indikasinya, kurang maksimalnya daya serap siswa dalam memahami konsep-konsep matematika yang diajarkan sehari-hari. Bahkan dari 25 kemampuan yang diuji dalam UN Matematika, secara merata berada di bawah bobot nilai 50, hanya satu topik yang mendapatkan bobot nilai di atas 70.( Sumber : Kemdiknas )

One response to “ANALISA UJIAN NASIONAL 2011

  1. untuk Nilai UAS sy sangat kecewa dengan yang terjadi di SD kemarin, karena adanya rekayasa, mau dimana kejujuran pendidikan kita pak?
    ============
    Mudah-mudahan hal itu tidak benar-benar terjadi di tengah upaya pemerintah mengembangkan pendidikan karakter demi membangun warga negara yang berbudi pekerti luhur / berakhlak mulia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s